Biografi Dahlan Iskan
September 1st, 2012 // 11:16 pm By eng koh
Hampir seluruh rakyat Indonesia pasti sudah mengenal sosok Dahlan Iskan, yang saat ini menjabat sebagai Menteri Negara BUMN sejak tanggal 18 Oktober 2011, menggantikan Mustafa Abubakar. Berasal dari keluarga yang miskin dan serba kekurangan, pria kelahiran Magetan, Jawa Timur, pada tanggal 17 Agustus 1951 ini mengawali karirnya di bidang jurnalistik sebagai reporter pada tahun 1975 di sebuah surat kabar kecil di Samarinda, Kalimantan Timur. Setahun kemudian, karirnya mulai merangkak naik karena beliau berhasil menjadi wartawan majalah Tempo yang lebih terkenal dan besar.
Setelah enam tahun meniti karir sebagai reporter di majalah Tempo, tepatnya pada tahun 1982, Dahlan Iskan memimpin surat kabar Jawa Pos hingga sekarang. Tidak berhenti disitu saja, karirnya terus melesat. Pada tahun 2009, Dahlan Iskan dipercaya menggantikan Fahmi Mochtar sebagai Direktur Utama PLN. Di bawah kepempinannya, beliau mencanangkan program 1 juta sambungan dan membangun PLTS di 100 pulau yang tersebar di Indonesia. Pernyataan kontroversial Dahlan Iskan selama memimpin PLN adalah ketiaka beliau menyatakan bersedia untuk tidak digaji demi memajukan dan memakmurkan PLN. Dengan keseriusan dan kemantapan hatinya untuk membangun PLN, beliau mampu memajukan dengan melakukan perombakan internal birokrasi PLN melalui gaya CEO note Dahlan Iskan atau pendekatan yang fleksibel yang mampu menjebatani hubungan antara atasan dan bawahan, sehingga terjalin hubungan yang lebih dekat, tidak canggung namun tetap berwibawa.
Berkat keberhasilannya memimpin PLN, Dahlan Iskan dipercaya oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk menjadi Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara sejak Oktober, 2011. Ada suatu gebrakan baru dari Dahlan Iskan setelah satu bulan menjadi Menteri BUMN, dengan menularkan ide-ide dasar tentang manufacturing hope atau pengelolaan harapan yang bertujuan memajukan BUMN di Indonesia.
Manufacturing Hope
Berbeda pemimpin tentu saja berbeda gaya. Gaya kepemimpinan Dahlan Iskan cenderung menggunakan pendekatan bisnis seperti seorang CEO yang memimpin perusahaan daripada menjadi Menteri yang sebenarnya.
Menurutnya, dengan berperan sebagai CEO pada Kementerian BUMN, setiap tindakan dan keputusannya akan lebih fleksible (tidak terlalu kaku), dan lebih leluasa karena tidak terlalu dibatasi oleh tembok-tembok birokrasi.
Dengan memerankan diri sebagai CEO, akan mempunyai daya paksa kepada jajaran korporasi di lingkungan BUMN. Namun demikian, sesuai dengan batasan-batasan tertentu karena tetap saja pemegang komando berada pada pemimpin atau pelaksana masing-masing korporasi BUMN.
Ini merupakan langkah pertama dalam membangun Kementrian BUMN yang solid sesuai dengan instruksi Presiden agar setiap Menteri harus memiliki inisiatif untuk terus maju dan berkembang sesuai dengan harapan. Memang gerakan pertama ini baru merupakan hope atau harapan. Harapan inilah yang nantinya menjadi manufacturing hope dengan modal niat baik, kerja keras, ikhlas dan totalitas maka semuanya akan berjalan sukses.
Manufacturing hope atau mengelola harapan sebenarnya adalah penyaluran pengetahuan individu kepada pengetahuan kolektif sesuai dengan harapan-harapan dalam membangun korporasi. Ini berarti bahwa, penyatuan ide-ide dasar yang dimiliki oleh Dahlan Iskan kepada seluruh jajarannya agar mampu berjalan sejalan dengan tujuan bersama untuk memajukan korporasi dengan pemikiran-pemikiran yang maju.
Suka Artikel tentang Biografi Dahlan Iskan?
Like This yaa..
Terima Kasih
Belum puas membaca artikel tentang Biografi Dahlan Iskan?
Kamu butuh ilmu lainnya?
Baca dulu artikel lainnya pada rubrik Biografi.
Suatu saat jika Anda punya bisnis yang ingin dikembangkan, jangan sungkan-sungkan untuk menggunakan Jasa SEO di sini.
Pelajari apa itu SEO di sini.
Share your thoughts
Category : Biografi

