Lokasi Industri – Pengertian dan Teori
November 21st, 2012 // 3:56 pm By eng koh
Saat ini di Indonesia, terjadi pergeseran dan perubahan pada sektor industri dari industri berat menuju industri ringan (industri kreatif), banyak faktor yang mempengaruhinya. Salah satunya adalah faktor lokasi. Secara sederhana, faktor lokasi dibagi menjadi dua bagian: Faktor fisik dan sosial-ekonomi (manusia).
Pengertian Lokasi Industri
Merupakan gabungan dua kata “lokasi dan industri. Lokasi dapat diartikan sebagai tempat yang mendukung jalannya industri. Industri adalah suatu kegiatan pengolahan bahan mentah atau barang setengah jadi menjadi barang jadi yang memiliki nilai tambah untuk mendapatkan keuntungan.

Teori Lokasi Industri
Teori Lokasi berkaitan dengan lokasi geografis dari kegiatan ekonomi, melainkan telah menjadi bagian integral dari geografi ekonomi, ilmu pengetahuan regional, dan ekonomi spasial. Teori Lokasi membahas pertanyaan-pertanyaan tentang kegiatan ekonomi, letak kegiatan, di mana dan mengapa. Teori Lokasi seperti umumnya teori mikroekonomi yang berasumsi bahwa agen bertindak untuk kepentingan diri mereka sendiri. Dengan demikian perusahaan memilih lokasi yang memaksimalkan keuntungan mereka dan individu memilih lokasi yang memaksimalkan utilitas mereka.
Alfred Weber, seorang ekonom Jerman, mengungkapkan teori sistematis lokasi industri pada tahun 1909. Teori lokaso Weber menggunakan pendekatatn deduktif murni. Ia menganalisis faktor-faktor yang menentukan lokasi industri dan faktor-faktor ini diklasifikasikan menjadi dua:
(I) Penyebab primer dalam distribusi regional industri (faktor regional)
(Ii) penyebab sekunder (faktor agglomerative dan deglomerative) yang bertanggung jawab untuk redistribusi industri.
(I) Penyebab Primer (Faktor Daerah)
Menurut Weber, biaya transportasi dan biaya tenaga kerja adalah dua faktor regional. Dengan asumsi bahwa tidak ada faktor lain yang mempengaruhi distribusi industri, kecuali biaya transportasi. Maka jelas bahwa lokasi industri akan ditarik ke lokasi-lokasi yang memiliki biaya transportasi terendah. Faktor kunci yang menentukan biaya transportasi
(I) berat untuk diangkut dan
(Ii)jarak yang harus ditempuh.
Menurut Weber, faktor yang mempengaruhi biaya transportasi antara lain (a) jenis sistem transportasi dan sejauh mana penggunaannya, (b) sifat daerah dan jenis jalan, (c) sifat barang itu sendiri.
Namun, lokasi tempat produksi harus ditentukan dalam kaitannya dengan tempat konsumsi dan letak terdapatnya bahan baku. Angka-angka lokasional tergantung pada (a) jenis endapan material dan (b) sifat dari transformasi menjadi produk.
Weber meneliti lebih lanjut penyebab penyimpangan lokasi industri dari pusat biaya transportasi minimal. Adanya perbedaan dalam biaya tenaga kerja menyebabkan industri menyimpang dari titik optimal orientasi transportasi. Distribusi geografis dari populasi akan menimbulkan perbedaan upah untuk tenaga kerja.
(Ii) Penyebab Sekunder (Faktor agglomerative dan Deglomerative)
Faktor agglomerative merupakan keuntungan produksi atau pemasaran yang dihasilkan dari kenyataan bahwa produksi dilakukan pada satu tempat. Faktor deglomerative adalah murahnya produksi dari hasil desentralisasi produksi yaitu produksi di lebih dari satu tempat. Untuk beberapa faktor agglomerative dan deglomerative juga berkontribusi terhadap akumulasi lokal dan distribusi industri. Faktor-faktor ini akan beroperasi hanya dalam kerangka umum yang dibentuk oleh dua faktor regional, yaitu, biaya transportasi dan biaya tenaga kerja. Keuntungan yang dapat diperoleh dalam konteks ini adalah ekonomi eksternal.
Penentuan Lokasi Industri
Dalam memilih lokasi industri perlu mempertimbangkan berbagai faktor:
1. Kedekatan dengan pasar.
2. Hubungan Komunikasi. Transportasi merupakan faktor penting yang mendukung akses ke pasar. Perusahaan modern juga perlu memiliki akses teknologi informasi yang baik.
3. Kedekatan dengan bahan baku. Lokasi dekat dengan pasokan bahan baku dapat mengurangi biaya produksi. Hal ini terutama berlaku untuk industri seperti baja, yang menggunakan sejumlah besar bijih besi dalam proses produksi.
4. Ketersediaan karyawan terampil. Hal ini telah dipelajari dalam psikologi industri. Beberapa industri sangat bergantung pada tenaga kerja yang terampil. Sebaliknya, industri lain yang memerlukan tenaga kerja murah akan mencari lokasi di mana ada banyak orang yang mencari kerja yang siap untuk menerima upah rendah.
5. Peluang untuk pembuangan limbah. Limbah adalah efek samping dari proses industri modern. Perusahaan yang memproduksi banyak bahan beracun (misalnya beberapa pabrik kimia) akan berusaha untuk menemukan di mana terdapat fasilitas yang tersedia untuk daur ulang dan pembuangan yang aman dari produk mereka.
6. Ketersediaan pasokan listrik. Pasokan energi biasanya dapat ditemukan di sebagian besar wilayah Indonesia – misalnya tiang listrik dan kabel. Mampu menegosiasikan kesepakatan yang baik di lokasi tertentu mungkin berpengaruh sebagai faktor lokasional.
7. Ketersediaan lahan. Tanah menjadi semakin langka khususnya di daerah perkotaan, memaksa naiknya harga sewa. Harga properti sangat tinggi di daerah kota besar seperti Jakarta dan Sekitarnya.
8. Insentif pemerintah yang penting dalam mengurangi biaya penempatan di daerah tertentu. Tidak semua lokasi dapat dijadikan lokasi industri, ada aturan tata letak yang dibuat oleh pemerintah. Insentif pemerintah dimaksudkan sebagai keringanan biaya yang diberikan dengan penempatan lokasi industri di daerah tertentu.
Suka Artikel tentang Lokasi Industri – Pengertian dan Teori?
Like This yaa..
Terima Kasih
Belum puas membaca artikel tentang Lokasi Industri – Pengertian dan Teori?
Kamu butuh ilmu lainnya?
Baca dulu artikel lainnya pada rubrik Industri.
Suatu saat jika Anda punya bisnis yang ingin dikembangkan, jangan sungkan-sungkan untuk menggunakan Jasa SEO di sini.
Pelajari apa itu SEO di sini.
Share your thoughts
Category : Industri

